Selasa, 28 Oktober 2008

Sambut Pemilu 2009

Proses Pemilu 2009 ini menarik untuk diikuti.
Beban politik jauh lebih besar karena caleg diberi kesempatan besar untuk promosi dan kampanye mandiri.
Nah, menurut saya ruang lingkup pekerjaan 2009, setidaknya merupakan metamorfosis dari pekerjaan 2004 lalu. Usai mengkais-kais ingatan, saya jadi ingat bagaimana lelah dan menyenangkan ketika menggeluti pekerjaan siklus 5 tahunan ini:

Supervisor dan Koordinator Surveyor Kab. Nganjuk dalam Survey Pemilu 1999 (LP3ES–USAID)
Project Officer Program Pendidikan Pemilih Berbasis Pencegahan Tindak Kekerasan Pada Pemilu 2004, (KIPP Sby – CGI–UNDP)
Asisten Peneliti dalam Survey Pemilu 2004 dan Quick Count Pemilu 2004 (CESDA-LP3ES–NDI)
Supervisor Pemantauan Pemilu 2004, KIPP Jatim
Supervisor Pemantauan Pilkada Surabaya 2005 (KIPP Surabaya); dan Supervisor Pemantauan Pilgub Jatim 2008 (KIPP Jatim)

Bravo, Pemilu 2009.

10 Tahun Pengalaman Training-ku

Tak terasa sudah hampir 10 tahun saya mengikuti berbagai pelatihan.

Seingat saya, ada beberapa pelatihan yang berkesan hingga saat ini:

Civic Education For Future Indonesian Leaders (USCF-SATUNAMA, 2001)
Diklat HAM Dasar Region Jawa (CESDA-LP3ES, 2002)
TOT HAM Se-Jawa Bali (CESDA-LP3ES, 2002)
Training Monitoring Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (HESB) se-Indonesia (LP3ES, 2002)
Pelatihan Fasilitator Resolusi Konflik Berbasis Pencegahan Tindak Kekerasan Pada Pemilu (CGI–UNDP, 2004)
Capacity Building Resolusi Konflik, Program Pemilu Damai (CGI, 2004)
Education Management Training for Pesantren/Shortcourse for Indonesian Pesantren Deputy Heads (University of Leeds, U.K., 2007).

Salam untuk teman-teman alumni CESDA-LP3ES, CGI dan University of Leeds, UK...

Jumat, 05 September 2008

Genap "Setahun" Badranaya

Sanggar Baca Bàdrànàyà (baca: Bodronoyo) berdiri secara “resmi” melalui sebuah Slametan ba’da tarawih, menjelang tengah malam, pada Rabu Kliwon malam Kamis Legi, 29 Ramadhan 1428 H/10 Oktober 2007.

Ia merupakan realisasi dari akumulasi berbagai keresahan dan kesadaran. Antara lain, ketimpangan wacana antara desa-kota, dominasi ”wacana TV” atas masyarakat desa dan upaya simultan pencerabutan akar historis dan antropologis masyarakat, baik oleh penguasa maupun agen-agen rezim (modal, kuasa maupun intelektual) global, melalui berbagai jalur dan kesempatan.


Keresahan itu membawa pada pandangan diperlukan hadirnya sebuah ”jembatan” yang memerantarai kesenjangan tersebut; ”oase” yang menyediakan ”wacana tanding”; ”kerangka-baca mandiri” bagi ”masyarakat pinggiran”, yang kesemuanya memungkinkan kelompok rentan dapat memahami gulungan ombak dan serbuan badai globalisasi-neoliberalisasi.

Sebagai entitas yang diharapkan menjadi “teman keluh kesah” dan menyediakan berbagai kemungkinan munculnya kerangka-baca alternatif, maka Sanggar Baca Bàdrànàyà tidak hanya memaksudkan dirinya sebagai perpustakaan penyedia buku bacaan saja—pun tidak semata penyedia buku bacaan alternatif. Diharapkan, ia menjadi tempat menempa diri, wahana ”lelaku” bagi mereka yang semakin hari semakin merasakan kuatnya gulungan gelombang global, meski belum dapat mendefinisikannya secara konseptual-konsepsional atau bahkan hanya sekedar membahasakannya secara verbal.

"Sanggar Baca” dipilih bukan hanya sekedar memberi nuansa alternatif bagi kata ”Taman Baca”, melainkan juga upaya menghadirkan kembali kesadaran historis dan antropologis masyarakat pedesaan (jawa) di mana Sanggar Baca ini didirikan.
Pun pilihan ”Bàdrànàyà” sebagai nama sanggar. Bàdrànàyà adalah nama lain dari Semar, sesosok dewa di dunia pewayangan, yang merelakan dirinya ”turun ke bumi” dan menjadi Panakawan; batur, jongos, pelayan, bagi para (calon) ksatria utama (santri).

Dalam kepelayanannya, ia selalu memberi masukan-masukan penuh makna, arahan-arahan tentang jalan kehidupan dan sering kali, di saat-saat genting, memberikan perlindungan dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai Sang Hyang Ismàyà. Semar Bàdrànàyà adalah simbol dari rakyat yang akan selalu setia mendampingi dan mendukung para “ksatria utama” dengan pengetahuan dan kearifannya meski “hanya” sebagai masyarakat desa.


Sanggar Baca Bàdrànàyà didesain sebagai sanggar sederhana yang memungkinkan setiap orang dapat merasa nyaman dalam melakukan aktifitas pembacaan (buku maupun ”realitas”) dan berdiskusi, serta diupayakan jauh dari citra ”elit”, ”canggih”, ”eksklusif” dan sebagainya. Karena pengetahuan, betapapun ia penuh kuasa, sejatinya bukanlah sesuatu yang hanya boleh dimiliki segelintir orang. Para pengunjung dan pegiat sanggar dapat menjadi dirinya sendiri dalam melakukan pembacaan, tanpa harus dibayang-bayangi tuntutan cara baca dan cara berpikir ”intelek” atau ”elit” kampusan. Karena itulah, Sanggar Baca Bàdrànàyà menahan diri dari aktifitas dan promosi berlebih yang dapat mengaburkan upaya penggalian orisinalitas alamiah masyarakat.


Dalam ”kesederhanaan” promosi tersebut, Sanggar Baca Bàdrànàyà saat ini telah dimanfaatkan oleh beberapa lapisan masyarakat, semisal anak-anak usia sekolah (kebanyakan SD-SMP), santri-tani muda, dan mahasiswa di daerah Nganjuk dan sekitarnya.[]