Ia merupakan realisasi dari akumulasi berbagai keresahan dan kesadaran. Antara lain, ketimpangan wacana antara desa-kota, dominasi ”wacana TV” atas masyarakat desa dan upaya simultan pencerabutan akar historis dan antropologis masyarakat, baik oleh penguasa maupun agen-agen rezim (modal, kuasa maupun intelektual) global, melalui berbagai jalur dan kesempatan.
"Sanggar Baca” dipilih bukan hanya sekedar memberi nuansa alternatif bagi kata ”Taman Baca”, melainkan juga upaya menghadirkan kembali kesadaran historis dan antropologis masyarakat pedesaan (jawa) di mana Sanggar Baca ini didirikan.
Dalam kepelayanannya, ia selalu memberi masukan-masukan penuh makna, arahan-arahan tentang jalan kehidupan dan sering kali, di saat-saat genting, memberikan perlindungan dengan kemampuan dan kapasitasnya sebagai Sang Hyang Ismàyà. Semar Bàdrànàyà adalah simbol dari rakyat yang akan selalu setia mendampingi dan mendukung para “ksatria utama” dengan pengetahuan dan kearifannya meski “hanya” sebagai masyarakat desa.
Sanggar Baca Bàdrànàyà didesain sebagai sanggar sederhana yang memungkinkan setiap orang dapat merasa nyaman dalam melakukan aktifitas pembacaan (buku maupun ”realitas”) dan berdiskusi, serta diupayakan jauh dari citra ”elit”, ”canggih”, ”eksklusif” dan sebagainya. Karena pengetahuan, betapapun ia penuh kuasa, sejatinya bukanlah sesuatu yang hanya boleh dimiliki segelintir orang. Para pengunjung dan pegiat sanggar dapat menjadi dirinya sendiri dalam melakukan pembacaan, tanpa harus dibayang-bayangi tuntutan cara baca dan cara berpikir ”intelek” atau ”elit” kampusan. Karena itulah, Sanggar Baca Bàdrànàyà menahan diri dari aktifitas dan promosi berlebih yang dapat mengaburkan upaya penggalian orisinalitas alamiah masyarakat.